Rabu, 10 Juni 2015

Cerpen Pesantren Ramadhan_Man Jadda Wajada

Assalamu'alaikum Guys, gue nongol lagi nih. Karena ramadhan tinggal beberapa hari lagi, jadi aku mau sharing ke kalian cerpen tentang pesantren ramadhan karya sahabat aku. namanya Indah Puspitasari. Ini ceritanya beneran yakk, bukan boongan :D. hehehe. Selamat membaca dan semoga membantu .



Man Jadda Wajada

Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan ampunan, hal itulah yang kami imani dan menjadi pedoman kami untuk banyak - banyak beribadah di bulan ramadhan .Aku akan menceritakan salah satu pengalaman yang mengesankan ketika pesantren ramadhan.
Pagi ini aku berjalan menikmati indahnya kota soppeng,di temani sinar mentari dan teman -temanku imut dan manis. Sayang indahnya mentari tak seindah wajah kami karena pesantren ramadhan di laksanakan selama 1 minggu.
’’ malas ahhh....’’ tanya A.Fia
“iya nih aku bosan masah pesantren ramadhan lama sekali ,biasanya hanya 1 hari”kata wana
“lebih aku “singkat aku
Sesampai disekolah kami pun bertemu teman-teman.
“Hay?”sapa Nir
“Apa sih”jawab ku dengan suara ketus
“Hay juga” Wana dengan wajah tersenyum
Teman-teman mulai berbincang dan ngoceh,itu terus di permasalahkan.
Bapak guru memanggil kami untuk berkumpul di lapangan dan melaksanaka upacara pembukaan.
“untuk apa sih kita dikumpulkan?”spontan Cite
“nggak tau kita lagi puasa”nyolot Mia
Dan upacara pun dimulai,semua siswa terdiam mendengar protokol membaca dengan menggunakan bahasa arab,bahasa inggris,bahasa indonesia.
“wah keren banget”kata iin
“iya sih apalagi yang pake bahasa arab,tapi kenapa lama banget”kata Nir
Lama kemudian nama kita pun disebut satu per satu sayang aku tidak sekelas dengan sahabat -sahabat ku yang lain kecuali Mia.
Setelah selesai upacara kami pun menuju ke kelas yang telah ditentukan, akupun berkata kepada Mia.
“percuma kita marah-marah nggak ada gunanya juga”kataku
“sudahlah jalani aja”
Sesampai dikelas kami pun duduk di bangku yang berdampingan sambil menunggu orang yang akan mengajar kami. Dan Akhirnya mereka pun datang dan memperkenalkan dirinya masing-masing.
Yang pertama “Assalamu Alaikum Wr.Wb”
Kami pun serentak menjawab “Waalaikum Salam Wr. Wb.”
“perkenalkan nama saya Makdum Syarif, dan disebelah saya bernama Mufti dan satu ini namanya Radi kami dari Pesantren Immim Putra Makassar akan berbagi ilmu agama yang mendalam dengan teman-teman , Apakah ada yang mau bertanya?”ucapnya.
Aku pun mengacungkan tangan sambiln berkata. “tinggal dimana?”
Satu persatu mereka menjawab
“saya tinggal di Gowa”jawab Makdum
“saya tinggal di Makassar dan teman saya yang kecil ini tinggal di Siwa”jawab Mufti.
Sebelum memulai pelajaran kami semua diminta untuk memperkenalkan Diri kami masing-masing.
Makdum pun berkata”kan ada pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang jadi sebelumnya kalian juga harus memperkenalkan diri kalian masing-masing, yang pertama bagian depan(sambil menunjuk ke arahku) tolong sebutkan nama, tempat tanggal lahir, alamat, cita-cita, dan yang teraklhir idolanya”
Aku pun berdiri dan memperkenalkan diri “Ass... Perkenalkan nama saya Indah Puspitasari, tempat tanggal lahir Cangadi, 31 juli 1999, saya tinggal di Cangadi, saya ingin menjadi seorang dokter, idolah saya adalah Aliando Syarief”
“oh saya”katanya sambil bercanda karena namanya hampir mirip dengan Aliando Syarif.
“bukan, beda banget sama Aliando”satu kelaspun tertawa mendengarkanku
Setelah semua siswa memperkenalkan diri kami pun memulai pelajaran, pelajaran yang mereka bawakan ialah Mahfudzat(kata-kata mutiara).
Mereka pun menuliskan di papan tulis
l  MAN JADDA WA JADA yang artinya barang siapa yang bersungguh-sungguh mendapatlah ia”
l  MAN SABARA SAFIRA yang artinya barang siapa yang bersabar mendapatlah ia
l  FAKKIR KABLA ANTA SIMA yang artinya berfikirlah dahulu sebelum bertindak
Kata-kata itulah yang kami dapatkan dari pelajjaran Mahfudzat itu. Kata man jadda wajada bagaikan sebuah kekuatan yang maha dahsyat, yang bisa membangkitkan semangat kami untuk lebih mendalami ilmu agama. Karena dari kata tersebut kami lebih yakin, bahwa orang yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil di masa yang akan datang. “Man jadda wajada”, batinku dengan maksud untuk membuat diriku lebih bersemangat untuk mempelajari Al Qur’an
Waktu istirahat pun tiba saya dan teman-teman berkumpul didepan kelas sambil bercerita.
“eh ini tuh lucu banget. Kalian tau nggak?”, kata A.Fiana
“lucu bangert? Tau nggak? Ya enggaklah, orang kamu belum cerita, dasar lalodd”, kata Nir dengan nada mengejek
“Huuuu, lalodd”, kata teman-teman yang lain.
“heheh, sorry. Gini nih, tadi di kelas Iin memperkenalkan diri, seperti ini ‘Perkenalkan nama saya Iin sulistianingsi Pratiwi, Tinggal di cangadi dan TTL: 5 Juli 1945’ dan sontak stu kelaspun ikut tertawa mendengarnya”, kata A.fiana dengan mimik muka yang mengikuti mimik muka Iin.
Sontak kamipun ikut tertawa mendengar A.Fiana memperagakan cara Iin. Wajah Iin pun kini berwarna merah sambil melayangkan sebuah ketukan ke kepala A.Fiana dan A.Fiana pun tidak mau kalah.
“Perkelahian 2 orang lebay pun di mulai, hahaha”, kataku
Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi Kring Kring Kring
Ternyata yang mengajar kami bukan kakak yang itu lagi , merekapun masuk dan memperkenalkan diri seperti sebelumnya . Merekapun menuliskan materinya yaitu”Al-QUR’AN dan TAJWID”
Hari  demi haripun berlalu tak terasa kini hari terakhir pesantren ramadhan . Aku dan teman -teman berkumpul sambil berbincang-bincang .
“tak terasa pesantren ramadhan sudah hari terakhir”kata aku
“awalnya kita marah-marah dan menolak karena pesantren ramadhan biasanya cuma 1 hari dan kali ini satu minggu ,dan ketika hari terakhir mau tambah lagi,hahahah”ujar Mia
“apa sih Mia ??jawab nir dengan nada mengejek
“dududuuuu,lalalaaa,,,,”sontak kami
Mia pun kesel memukul kepala Nir.
“Woy, sakitt. Insyaf bu, insyaf!”, kata Nir secara spontan.
Setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing. Sesampai di rumah saya terus memandangi dinding kamar. Ada sesuatu yang berbeda, yah ada. Aku pun kembali mengingat momen berharga itu. Dan ada sebuah momen yang takkan ku lupakan, dimana saya dan mia berada dalam satu ruangan dengan kak makdum. Ya, kakak yang berfungsi sebagai wali kelas kami, di kelas itu kami bertiga tidak dapat membendung air mata kami, air mata itu megalir begitu saja tanpa ka mi sadari, dan semakin deras. “saya kira hanya saya dan Mia yang menangis, ternyata kak makdum ikutan menangis”, batinku sambil meyunggingkan sebuah senyuman. Banyak pelajaran yang dapat saya petik dari kegiatan tersebut, mulai dari ilmu agama sampai ilmu dunia. Terima kasih kak, atas segala nasihat-nasihatnya. Angkatan kamilah yang paling beruntung karena sebelum meninggalakan sekolah menengah pertama, kami dapat merasakan kegiatan seperti itu. “Nasihat kakak akan selalu saya ingat dalam menjalani kehidupan-kehidupan ini dan 25 nama tersebut tidak akan kulupakan, kataku sambil tersenyum dan kini aku telah merasuki alam mimpi. “Man Jadda Wajada”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar